Cepen by : Nurul Sholehuddin
TETESAN AIR MATA DIBALIK RAHASIA
Aku
mulai menulis sebuah Cerpen perjalanan hidupku ini dengan menyebut Bismillah,
Ya Rahman Ya Rahim, selontaran ayat ini semoga hari-hariku menjadi hari yang begitu sempurna.
Aku
menulis untuk selalu menjadi sejarah kenangan dimasa kecilku, mengingat Khumairoh
hingga apa bila suatu hari nanti tuhan menyatukan kami, aku dapat menjadikan
cerpen ini sebagai rekaman cintaku yang sangat demikian besar.
Ya,Rahman,
jadikan aku nafas diantara nafasnya. Jika aku mengingatnya setiap detik
bersamanya merasakn degub jantug yang menyebut namanya seperti nikmat dzikir
kepada-Mu, aku sering bersamanya, dan saling bercanda tawa. Saat itu dia pernah
mengatakan sebuah kalimat yang seakan terlontar kata tanpa sengaja, kalimat
indah yang menjadi ikrar dari perjalanan hidupku.
“
Mas, kalau nanti sudah semakin dewasa jadi orang yang pandai mengajikan ? kata
ustadz yang paling baik adalah yang membaca al-qur’an, Khumairoh ingin Mas
menjadi orang yang baik dan selalu dekat denganku sekaligus menjadi imamku
(jodohku) aku sayang kamu Mas “
Mata
kecilnya menatapku seakan – akan ada butir air mata yang akan mengalir, matanya
yang begitu sempurna menakjubkan hati ini namun aku tak bisa mengatakn apapun,
sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga sangat ingin selalu dekat bersamanya dan menjadi orang yang halal
pertama dan terakhir untuknya.
Kemudian
saat ingin berpisah denganya detak jantungku semakin kencang sehingga menjerit
– jerit mengatakan.
“ Ya, Rahman, biarlah seumpama
rasa cinta ini yang telah engkau amanahkan sebagai ujianku, sehingga dihari
yang telah aku sanggup melamarnya baru engkau bukakan rahasia ini padanya, aku
akan setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan ridha
atas semua takdirmu”.
Beberapa selang tahun kemudian aku
tak pernah melihat dirinya mungkin karena kita berpisah sekolah, setiap malam
aku hanya terbayang – bayang teduhnya malam bersama segelintir senyuman dan
sinar cantik matanya yang membuatku tak bisa memejamkan mata rasanya hati ini
gelisah, resah hampa tanpanya. Hari – harikumenjadi sunyi mencekam bila indah
suaramu tiada terngiang ditelingaku.
Matahari sudah bertengger diatap
rumah segeralah aku berangkat sekolah, tiba – tiba aku dikejutkan dengan
temanku yang bernama Syaifullah dengan membawa cerita yang tak begitu sempurna
dan menyakitkan.
“ Hai sob, aku dan Khumairoh insya
allah akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….”
“ Ya Allah… Aisya siapa itu?”
tanyaku dengan tergesa – gesa
“ Wissss kenapa kamu begitu
terkejut dengan semua itu, ya itu Khumairoh tetanggamu yang kamu juga kenal
denganya ” jawabnya seraya menatap mataku dengan melebar
“ oh itu” jawabku hanya mengangguk
Batinku berkata skaligus ku usap
dada.
“ Ya Allah aku kira bukan Khumairoh
pujaanku tapi ternya itu benar benar yang diidamiku, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Dilanjutkan oleh dia dengan
menulis sebutir surat dan aku meratapinya.
“ Dinda Khumairoh kanda berharap
cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda ingin kita menjadi
sepasang suami istri nanti begitu saling tulus menyayangi, mengayomi bukan
saling menghukumi, kanda begitu saaaaaangat mencintai adinda dengan tulus
ikhlas mari kiita rajut suami istri ini dengan baik nanti dan mempercepat
hubungan ini, kanda akan segera lamar adinda
”
Itulah sedikit kata – kata dalam
suratnya yang ditulis sahabat dekatku, aku hanya terdiam aku tak mungkin mengatakan perasaan ini pada sahabatku, kalau
aku juga sangat mencintai Khumairoh sejak dulu, biarlah perasaan ini terpendam
sangat dalam meski sakit yang penting sahabatku tak ter sakiti. Maka dari itu
aku tak melontarkan sekata apapun padanya.
Sore
menjelang malam, “ Ya, Rahman hari ini aku menangis kebenaran yang engkau minta
dariku untuk meninggalkan permata itu. Betapa kini ada orang yang melihat
cahayanya dan betapa hancur diriku
karena orang lain yaitu sahabatku sendiri, biarlah hati ini sakit kurasakan aku
ikhlas demi sahabatku yang baik mungkin inilah takdirku ” inilah rintihanku
pada saat itu yang tak diketahui seorangpun kecuali sang khaliq.
Disekolah
pagi ini Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, tanganku gemetar dan hatiku
berteriak seperti kerasukan jin tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku
terkejut dengan semua yang dia tulis sungguh sangat aku terkejut.
“ Untuk kanda Syaifullah,
terimakasih kanda telah menitipkan rasa cintanya yang demikian besar. Sungguh
gembira akan hati adinda karena sungguh dari pertama terpandang akan kanda,
adinda sudah merasakn bahwa hati inipun mengharap akan kanda. Tapi tidaklah
salah memilih adinda hanya gadis biasa sedangkan kanda begiiiiiiiiiitu sangat
sempurna, adinda siap menjadi orang yang halal bagi kanda dan adinda sangat
menyangi kanda tidak ada seorangpun yang menandingi rasa sayang ini untuk
kanda, adinda terserah kapan saja untuk dilamar yang penting kanda siap menjadi
imam dinda “
Aku
spontan tak melanjutkan ikut membaca surat itu, dan aku langsung pulang lalu
bertanya tanya pada Hatiku sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku .
“ Lalu apa arti perjuanganku dulu
untuknya padahal aku selalu ada untuknya, dan semuanya aku berikan padanya,? Apa arti dulu dia mengungkapkan semoga Mas menjadi imamku (Jodohku)?? apa ya
Rahman aku bertanya pada-Mu? Apa salahku Ya allah Ya robbi ???? ”
Ya, Rahman, jujur aku juga ingin
merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Apa bila aku masih punya kesempatan
untuk merasakan cinta yang berjalin dengan kebahagiaan. Mulai saat ini
kugantungkan pilihan terbaik pada dirimu Insya Allah aku terima dengan
ikhlas seperti apapun jodohku nanti.
Tak lama kemudian janur kuningpun
melengkung disetiap rumah mereka masing – masing pertanda mereka akan menjalani
pernikahan. Aku hanya pasrah pada sang maha kuasa menjalani takdir yang mana
mestinya biarlah tuhan yang memberikan jodohku yang penting berusa dan sabar
menjalani hidup yang lurus. Hidup memang tak lurus terus masih ada yang namanya liku – liku jika ada sedih
pasti ada bahagia, ku jalani hidup hari – hariku ini dengan sabar karena
dibalik rahasia sedih ini pasti ada yang namanya bahagia.
Menjelang satu Tahun kemudian dari
pernikahan mereka, kuratapinya seperti anjing yang menggonggong ada rasa ketidak
puasan dari mereka masing-masing, selalu ada yang namanya percekcokan. Maka
pada saat itu juga kebahagianku sempurna seakan-akan surga bersamaku. kukembangkan
kegiatanku mulai membaca, menulis, dan tahfidz Qur’an. Sehingga ku suksses
masuk di salah satu Universitas, yaitu Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
dan mendapatkan beasiswa sepenuhnya. Amien.
Bagi pembaca cerpen ini marilah
bersabar menjalani hidup, banyak senyumlah dan ikhlaskanlah apa yang sudah terjadi, tuhanlah
yang lebih tau. Suatu saat dibalik tetesan air mata pasti ada rahasia Tuhan
yang lebih membahagiakan lagi yang belum kamu ketahui, jangan menyalahkan
Tuhanmu sebelum kamu meneliti kehidupanmu sendiri. Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar